Blog image

Asrindra B. W.

01 October 2021, 13:37

Kisah Tikus dan Kurcaci (Bagian Kedua)

Ringkasan Cerita sebelumnya: Dua ekor tikus dan dua kurcaci sangat menyenangi keju. Hingga suatu hari keju yang mereka senangi lenyap. (lihat cerita sebelumnya di sini)

Lelah dan kecewa, di tambah perut yang lapar, membuat kedua kurcaci itu menghentikan apa yang mereka lakukan. Dalam pikiran kurcaci Haw, kedua tikus itu telah menemukan gudang keju baru dan mereka sedang menikmati keju yang berlimpah. Ia membayangkan mungkin sebaiknya ia juga berlarian berpetualang lagi di dalam labirin dan menemukan gudang keju yang baru. Haw sampai meneguk air liurnya membayangkan keju yang di bayangkannya. Ia semakin mempunyai dorongan untuk meninggalkan gudang itu. “Hem, bagaimana kalau kita pergi dari sini?, tanyanya kepada kurcaci yang lain.”Tidak. Aku senang di sini. Nyaman. Kita sudah kenal dengan lingkungan ini. Disamping itu di luar sana sangat berbahaya, kata kurcaci Hem. “Sama sekali tidak, bantah kurcaci Haw. “Kita sudah menjelajah banyak tempat sebelumnya, kita pasti bisa melakukannya lagi”. “ Ah aku sudah terlalu tua untuk itu Haw. Aku takut dan tidak ingin tersesat dan mengolok-olok diri sendiri”, kata kurcaci Hem.

Keesokan harinya kedua kurcaci melakukan hal yang sama. Mereka sibuk menggali dan mencari keju di gudang itu. Namun mereka tetap tidak menemukannya. Kurcaci Haw menurunkan peralatannya. Ia mulaimenertawakan dirinya sendiri. Ha ha, lihatlah keadaan kita.Kita tetap melakukan hal yang sama terus menerus dan bertanya-tanya kenapa keadaan tidak bertambah baik. Jika ini tidakbisa di bilang konyol, pasti ada istilah yang lebih lucu lagi. Dan ia melihat sepatu yang pernah ia pakai untuk menyelusuri lorong labirin bersama temannya itu. Ia mengambil dan memakainya. Ketika rekannya mulai memakai sepatu, Kurcaci lainnya berkata, “kamu serius mau berlarian lagi di lorong labirin dengan sepatu itu? Bagaimanan jika di luar sana kamu tidak menemukan keju itu? Sudah di sini saja bersamaku sampai mereka menaruh keju itu disini”, kata Kurcaci Hem.

Kurcaci Haw sudah memakai sepatunya, ia berdiri dan berjalan ke pintu. Lalu berkata kepada rekannya, “Hem, kadangkala sesuatu itu berubah dan mereka tidak pernah sama lagi. Hal ini seperti yang terjadi dulu. Itulah hidup! Kehidupan terus berjalan dan kita pun harus demikian”. Kurcaci itu pun pamit kepada rekannya dan mulai berlari di lorong labirin yang gelap. Cukup lama kurcaci itu berlari dalam lorong labirin. Ia masuk ke tempat yang belum pernah di datanginya, dan ia mulai ketakutan. Kata-kata rekannya yang menyuruh untuk tinggal dalam gudang keju lama kembali berkeliaran di pikirannya. Ia mengambil nafas dalam-dalam. Ia kembali memikirkan keju yang banyak. “lebih baik terlambat daripada tidak berubah sama sekali”, pikirnya. Dan ia mulai berlari lagi. Matanya mulai beradaptasi dengan keadaan sekitarnya.

Kurcaci itu tiba di sebuah ruangan besar. Namun saat ia masuk ke ruangan itu ia merasa kecewa karena ruangan itu kosong. Ia merasa putus asa dan ingin menyerah. Rasa takut kembali menghantuinya. Kemudian ia mengingatkan dirinya sendiri, jika kedua tikus itu bisa terus berjalan, ia juga bisa. Ia kemudian berlari lagi. Dalam bayangannya, kurcaci itu melihat dirinya sedang menikmati keju. Tak lama Ia menemukan sepotong keju di dekat pintu masuk sebuah gudang. Ia memakan potongan keju itu untuk menolong perutnya yang lapar. Lalu ia masuk ke gudang besar itu. Namun gudang itu telah kosong. Ia kembalai kecewa. Andai saja Ia datang lebih dulu mungkin ia bisa menemukan keju lebih banyak di gudang itu.

Kurcaci itu kembali meneruskan perjalanannya. Kemudia ia menelusuri sebuah lorong yang belum pernah dimasukiny, berbelok dan ia menmukan Gudang keju baru. Saat ia masuk, tumpukan keju ada di mana-mana. Dan ia melihat kedua tikus teman lamanya. Kurcaci itu segera menerjang tumpukan keju itu dan memakannya sampai kenyang. Sambil menikmati keju, kurcaci itu mengingat kembali pelajaran yang di dapat selama ini. Ia telah belajar untuk bergubah dan bergerak mengikuti keju, luwes dan berani bergerak.Ia belajar mengatasi keadaan. Ia juga menyadari bahwa halangan terbesar untuk berubah terletak di dalam dirinya sendiri. Jika ia tidak mau untuk berubah maka tidak akan ada perubahan.